Kementerian ESDM Tetapkan Harga Acuan Batubara dan Mineral Mei 2018

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1812 K/30/MEM/2018 tentang Harga Mineral Logam Acuan (HMA) dan Harga Batubara Acuan (HBA) untuk Bulan Mei Tahun 2018. Kepmen tersebut menetapkan Harga Acuan Batubara (HBA) dan Harga Acuan untuk 20 mineral logam (HMA).

"HBA dan HMA yang telah ditetapkan ini akan digunakan sebagai dasar perhitungan Harga Patokan Batubara bulan Mei tahun 2018." jelas Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (Biro KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi.

HBA Mei 2018 ditetapkan USD 89,53/ton. "Harga acuan batubara ditetapkan USD 89,53/ton. Harga ini mengalami penurunan sebesar USD 5,22 dari HBA April 2018 sebesar USD 94,75/ton," tambah Agung.

Penurunan HBA ini, menurut Agung salah satunya disebabkan oleh meningkatnya produksi domestik China. "Peningkatan produksi domestik China dan penurunan permintaan batubara di dalam negeri membuat HBA bulan ini mengalami penurunan bila dibandingkan HBA bulan April lalu," tandasnya.

HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platss 5900 pada sebelumnya. Kualitasnya disetarakan pada kalori 6322 kcal per kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8% dan Ash 15%.

Sementara HMA komiditas nikel ditetapkan USD 13.584,76/dry metric ton (dmt), turun dari USD 13.619,25/dmt dari HMA April 2018. Untuk komoditas kobalt ditetapkan USD 92.357,14/dmt, naik dari USD 83.162,50/dmt dari HMA April 2018. Harga timbal turun dari USD 2.452,05/dmt dari HMA April 2018 menjadi USD 2.372,19/dmt.

Harga seng turun tipis dari USD 3.382,90/dmt pada HMA April 2018 menjadi USD 3.222,74/dmt, sedangkan HMA aluminium naik dari USD 2.132,95/dmt menjadi USD 2.150,79/dmt. Untuk tembaga, HMA Mei 2018 ditetapkan USD 6.751,79/dmt, turun dari USD 6.932,35/dmt pada HMA April 2018.

Di samping komoditas mineral di atas, sebagian komoditas mineral mengalami kenaikan harga dan sebagian lainnya mengalami penurunan, daftarnya adalah sebagai berikut.

  1. Emas sebagai mineral ikutan: USD 1.337,43/ounce, naik dari USD 1.323,17/dmt dari HMA April 2018
  2. Perak sebagai mineral ikutan: USD 16,52/ounce, naik dari USD 16,51/ounce dari HMA April 2018
  3. Ingot timah Pb 300: sesuai harga ingot timah yang dipublikasikan ICDX pada hari penjualan
  4. Ingot timah Pb 200: sesuai harga ingot timah yang dipublikasikan ICDX pada hari penjualan
  5. Ingot timah Pb 100: sesuai harga ingot timah yang dipublikasikan ICDX pada hari penjualan
  6. Ingot timah Pb 050: sesuai harga ingot timah yang dipublikasikan ICDX pada hari penjualan
  7. Ingot timah 4NINE: sesuai harga ingot timah yang dipublikasikan ICDX pada hari penjualan
  8. Logam emas: sesuai harga logam emas yang dipublikasikan London Bullion Market Association (LBMA) pada hari penjualan
  9. Logam perak: sesuai harga logam perak yang dipublikasikan London Bullion Market Association (LBMA) pada hari penjualan
  10. Mangan: USD 7,41/dmt, naik dari USD 6,82/dmt dari HMA April 2018
  11. Bijih Besi Laterit/Hematit/Magnetit: USD 0,77/dmt, turun dari USD 0,92/dmt dari HMA April 2018
  12. Bijih Krom: USD 4,39/dmt, turun dari USD 4,41/dmt dari HMA April 2018
  13. Konsentrat Ilmenit: USD 4,31/dmt, naik dari USD 4,06/dmt dari HMA April 2018
  14. Konsentrat Titanium: USD 10,83/dmt, naik dari USD 10,79/dmt dari HBA April 2018

HMA adalah salah satu variabel dalam menentukan Harga Patokan Mineral (HPM) logam berdasarkan formula yang diatur dalam Kepmen ESDM Nomor 2946 K/30/MEM/2017 tentang Formula Untuk Penetapan Harga Patokan Mineral Logam. HMA ini menjadi salah satu variabel untuk menentukan HPM. Variabel penentuan HPM logam lainnya adalah nilai/kadar mineral logam, konstanta, corrective factor, treatment cost, refining charges, dan payable metal.

Besaran HMA ditetapkan oleh Menteri ESDM setiap bulan dan mengacu pada publikasi harga mineral logam pada index dunia, antara lain oleh London Metal Exchange, London Bullion Market Association, Asian Metal dan Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX). (DKD)

 

Sumber : Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral / esdm.go.id

Kini Indonesia Menjadi Produsen Listrik Panas Bumi Terbesar Kedua Dunia

Kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi (PLTP) hingga triwulan I tahun 2018 ini mencapai 1.924,5 MW dari target hingga akhir tahun sebesar 2.058,5 MW. Dengan capaian sebesar 1.924,5 MW tersebut menempatkan Indonesia pada posisi kedua di dunia setelah Amerika Serikat dalam memanfaatkan panas bumi sebagai tenaga listrik, menggeser posisi kedua yang sebelumnya ditempati Filipina.

Saat ini Indonesia memiliki cadangan panas bumi sebesar 17.506 MW dan sumber daya sebesar 11.073 MW. Dengan pemanfaatan yang masih sekitar 11,03% dari cadangan yang ada ini menjadi peluang besar bagi para investor untuk mengembangkan panas bumi sekaligus memenuhi kebutuhan energi nasional.

"Hingga triwulan I tahun 2018 atau hingga akhir bulan Maret 2018 sebesar 1.924,5 MW. Dengan capaian ini kita patut bangga karena dengan capaian sebesar itu kita melebihi Filipina yang sebesar 1.870 MW. Artinya itu, kita telah menjadi produsen panas bumi nomor 2 di dunia," ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (27/4).

Rida menyampaikan penambahan kapasitas terpasang PLTP tahun 2018 berasal dari beroperasinya PLTP Karaha Unit 1 (30 MW) dan PLTP Sarulla Unit 3 (110 MW, COD 2 April 2018: 86 MW). Sementara itu, akan menyusul pada pada semester kedua di tahun ini PLTP Sorik Marapi Modullar Unit 1 (20 MW) (Agustus 2018), PLTP Sorik Marapi Marapi Modullar Unit 2 (30 MW) (Desember 2018), PLTP Lumut Balai Unit 1 (55 MW) (Desember 2018) dan PLTP Sokoria Unit 1 (5 MW) (Desember 2018).

Potensi panas bumi di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia dengan potensi sumber daya sebesar 11.073 MW dan cadangan sebesar 17.506 MW. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang melimpah dengan 331 titik potensi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Setelah menggeser posisi Filipina sebagai produsen listrik panas bumi kedua terbesar di dunia, Pemerintah memproyeksikan Indonesia akan menjadi penghasil listrik dari tenaga panas bumi terbesar di dunia pada 2023 mendatang mengalahkan Amerika dengan kapasitas listrik panas bumi mencapai 3.729,5 MW.

Untuk memasifkan pemanfaatan panas bumi sebagai energi, Pemerintah terus memberikan kemudahan kepada para investor panas bumi melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal. Selain itu, pemerintah juga telah menerbitkan regulasi khusus mengenai panas bumi yaitu Undang-Undang No. 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2017 tentang Panas Bumi Untuk Pemanfaatan Tidak Langsung serta peraturan-peraturan teknis lainnya. Dua regulasi tersebut mengubah mindset lama bahwa pengembangan panas bumi bisa dilakukan di kawasan hutan konservasi karena tidak lagi dikategorikan sebagai usaha pertambangan. (SF)

 

Sumber : Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral RI

Ini Angka Cadangan Migas Indonesia dan Cara Meningkatkannya

"Siapa yang percaya Indonesia negara kaya minyak? Siapa yang tidak percaya? Apakah kita negara kaya minyak atau bukan?" tanya Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka paparannya dalam acara Ngopi Bareng Tokoh bertema "Kedaulatan Energi Memasuki Indonesia Emas 2045", di Jakarta, Minggu (25/3).

Arcandra menuturkan, saat ini Indonesia memiliki cadangan terbukti minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel. Dengan asumsi produksi konstan 800.000 per hari tanpa adanya temuan cadangan baru, maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi. "Tapi ini mungkin tidak 11-12 tahun kedepan, karena produksi akan turun. Tahun depan mungkin turun menjadi 700.000 (bph) dan seterusnya," ujarnya.

Faktor teknologi dan temuan cadangan baru, sebut Arcandra, adalah kunci keberlangsungan produksi minyak bumi di Indonesia.

Menurut Arcandra, teknologi eksploitasi minyak bumi saat ini hanya dapat mengambil 40-50 persen cadangan minyak dari dalam perut bumi. "Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa menguras lebih. Selama anak cucu kita bisa menemukan teknologi itu, kita tidak akan bisa memproduksi lebih dari itu. Untuk gas lebih baik, kita masih (memiliki cadangan) 25-50 tahun ke depan," ungkapnya.

Lebih lanjut Arcandra menjelaskan, cadangan terbukti minyak Indonesia yang mencapai 3,3 miliar barel tersebut bukanlah cadangan yang melimpah. Bila dibandingkan dengan cadangan terbukti minyak dunia, hanya setara dengan 0,2 persen. Selain itu, Reserve Replacement Ratio (RRR) Indonesia juga dinilai masih rendah.

"Kita hanya mampu reserve replacement ratio 50%. Itu adalah rasio berapa banyak yang kita ambil terhadap berapa banyak (cadangan minyak) yang kita temukan. Kita dua kali lebih banyak mengambil daripada menemukan, sementara negara-negara tetangga RRR-nya banyak yang diatas 100%," pungkas Arcandra. (KO)

Miliki 127 Gunung Api Aktif Jadikan Indonesia “Laboratorium” Gunung Api Dunia

Sejarah mencatat, letusan gunung api besar yang mengubah dunia beberapa diantaranya terjadi di Indonesia, seperti gunung api Tambora, Rinjani dan Krakatau. Dengan 500 gunung api yang dimiliki, dimana 127 merupakan Gunungapi Aktif yang memiliki beragam karakter, Indonesia menjadi tempat yang ideal bagi peneliti gunung api dunia untuk melakukan riset kegunungapian.

Perancis, sebagai salah satu negara yang telah lama bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam penelitian gunung api ini pun ingin meningkatkan kerjasama mitigasi kebencanaan geologi melalui penanandatangan Agreement (kerjasama) Indonesia dengan Perancis terkait Mitigasi Bencana Geologi, di Jakarta, Senin (26/3). Penandatanganan dilakukan oleh duta Besar Perancis untuk Indonesia, Jean-Charles Berthonnet dan Kepala Badan Geologi ESDM, Rudy Suhendar.

"Kolaborasi tidak hanya dalam arti capacity building untuk pembangunan antar kita, mereka lebih paham dan kita lebih paham, tetapi akan lebih berguna bagi uji coba secara internasional seluruh dunia menjadi, me-refer dari hasil-hasil yang kita peroleh," ujar Sekretaris Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Antonius Ratdomopurbo usai acara penandatanganan Agreement.

Lebih lanjut Antonius mengungkapkan, kerjasama dalam penelitian antar para peneliti gunung api dunia merupakan budaya yang berlaku sejak dulu. Keberhasilan di suatu tempat akan mempercepat perkembangan akurasi di tempat lain. "Jadi kolaborasi Perancis dengan kita yang telah dirintis selama 50-60 tahun lalu ini, bisa memberikan kontribusi bagi semua pihak karena keberhasilan penelitian di Indonesia akan menjadi keberhasilan di tempat lain dan itu budaya internasional dikalangan peneliti vulkanologi dunia ," tambah Antonius.

Indonesia saat ini memiliki banyak ahli di bidang gunung api. Kerjasama dengan ahli-ahli dunia sangat diperlukan untuk menghasilkan penemuan terbaru yang lebih akurat. "Semua teknologi kegunungapian di dunia itu ada di Indonesia. Teknologi itu tidak bisa diam tanpa kita ikuti, dan supaya kita cepat maka kita berkolaborasi, agat para ahli Indonesia dapat bertemu dengan para ahli-ahli dunia lainnya, berdiskusi dan maju cepat, tidak ada alasan lain. Orang semakin tidak berkolaborasi itu lambat majunya," jelas Antonius.

Di Indonesia terdapat gunung yang aktif dengan rata-rata 100 tahun, 50 tahun dan di bawah 10 tahunan. Gunung Galunggung merupakan contoh gunung api yang meletus dengan ritme rata-rata 100 tahun sekali, sedang gunung yang meletusnya 50 tahun sekali contohnya adalah Gunung Agung, dan yang dibawah 10 tahunan contohnya, Gunung Merapi, Ibu, dan Dukono. "Diantara 129 gunung aktif itu kalau di rata-rata yang aktif dalam setiap tahun itu rata-rata 5 gunung api secara bergantian," pungkas Antonius. (SF)

 

Sumber : Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral RI

Templates Joomla 3.3 BIGtheme.net